BUDAYA, PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMBENTUKAN MORAL GENERASI MUDA

Budaya atau kebudayaan merupakan  bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan selalu ada kapan pun dan dimana pun manusia berada. Manusia baik sebagai makhluk biologis maupun sebagai makhluk pribadi dan sosial adalah pendukung kebudayaan. Karena budaya merupakan bagian lingkungan yang diciptakan dan dialami manusia. Kebudayan adalah gambaran kehidupan dunia dan kegiatan total manusia dalam segala aspeknya. Ia diciptakan untuk dimanfaatkan guna memenuhi kepentingan dan kualitas hidup manusia, lahir dan bathin. Karena itu manusia dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat dialektis. Hubungan ini memungkinkan timbulnya alternatif-alternatif baru dalam kebudayaan.
Bagaimana corak dan sifat alternatif budaya baru sangat tergantung kepada nilai-nilai yang mendasari pembentukannya. Artinya, corak dan tingkat kemajuan budaya atas dasar nilai-nilai yang diyakininya. Karena kebudayaan secara ontologis berpusat pada manusia. Demikian pula sebaliknya, budaya mempengaruhi sikap bathin dan prilaku manusia sebagai obyek budaya.
Sebagaimana budaya atau kebudayaan, pendidikan sekalipun  dalam bentuk sederhana juga sudah ada sejak manusia ada. Pendidikan merupakan sarana pewarisan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bagaimana sikap batin dan prilaku manusia sebagai obyek pendidikan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diwariskan itu. Sebaliknya, bagaimana sistem pendidikan, filsafat, tujuan, muatan, dan materi pendidikan, jenjang pendidikan, proses belajar dan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut manusia sebagai subyek pendidikan.
Budaya dan sistem pendidikan diciptakan manusia merupakan suatu proses dan manusia ada dalam proses itu sebagai subyek maupun obyek budaya dan pendidikaa dalam menumbuhkan dan mengembangkan kebudayaan dan pendidikan. Bagaimana tingkat kemajuan kebudayaan suatu masyarakat sangat tergantung kepada kecerdasannya. Kecerdasan dapat diperoleh melalui pendidikan. Ini berarti terdapat hubungan yang erat antara budaya dan pendidikan. Pendidikan memang bagian dari kebudayaan, tetapi dari pendidikanlah lahir dan berkembang suatu kebudayaan. Pendidikan merupakan basis pembentukan kebudayan (Musa Asyari, 1993:5) dan budaya dapat mempengaruhi oleh pendidikan. Keduanya mempuinyai hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Hubungan dan pengaruhnya ditentukan oleh nilai-nilai yang mendasarinya.

Dialektika Budaya Dan Pendidikan
Budaya merupakan hasil cipta, rasa. Dan karsa manusia. Secara ontologis eksistensi kebudayaan karena adanya manusia. Kebudayaan itu berpusat pada pikiran dan hati manusia. Dengan kata lain, kebudayaan adalah aktivitas pikiran dan hati manusia. Dengan kata lain, kebudayaan adalah aktivitas pikiran dan hati manusia. Budaya ada yang bersifat materi, seperti peralatan benda, bangunan dan teknologi. Adapula yang bersifat non materi, seperti hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, organisasi-organisasi sosial. Dengan demikian, kebudayaan itu harus dipahami sebagai keseluruhan kemajuan yang dicapai oleh manusia yang didalamnya perkembangan moral dan rohani sangat dperhatikan. (A. Mukti Ali, 1987:202)
Para pakar memberikan definisi tentang kebudayaan yang beragam karena pendekatan yang digunakan berbeda. Pedekatan deskriptif dari Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks, meliputi aspek-aspek pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai masyarakat. Pendekatan history dikemukakan oleh Park dan Burgess bahwa kebudayaan adalah sejumlah total organisasi dari warisan sosial yang diterima sebagai sesuatu yang bermakna, yang dipengaruhi oleh watak dan sejarah hidup manusia. Pendekatan normatif dari Linton menyatakan kebudayaan adalah suatu pandangan hidup dari sekumpulan ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka pelajari dan  kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Pendekatan Psikologi dirumuskan oleh Kluckhhon bahwa kebudayaan terdiri atas keseluruhan kelangsungan proses belajar  suatu masyarakat.
Dari beberapa definisi ini tampak bahwa kebudayaan atau budaya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan kebudayaan merupakan simbol-simbol keberadaan manusia baik yang material maupun non-material. Ia dibentuk dan dipengaruhi oleh manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Karena kebudayaan, menurut B. Malinowski, berfungsi untuk melayani kebutuhan-kebutuhan individu-individu.  Namun sebagai warisan sosial, manusia dibentuk dan dipengaruhi dari  oleh kebudayaan dan manusia belajar dari budayanya. Sebab kebudayaan dari visi antropologis, menurut Kluckhon, adalah keseluruhan cara hidup manusia dan warisan sosial  yang diperoleh manusia dari kelompoknya.
Dalam konteks kebudayaan sebagai proses, Theodore Brameld menyatakan sarana dan kunci untuk memperoleh kebudayaan melalui belajar, kemudian meneruskan dan mengubah apa  yang dipelajari itu. Dalam proses belajar itu terdapat unsur pendidikan sebagai proses penyebab belajar. Kebudayaan sebagai proses merupakan usaha masyarakat untuk menjawab tantangan dalam suatu perkembangan yang dihadapkanpadanya. Untuk menjawab tantangan itu tergantung kepeda kecerdasan dan kreativitas serta nilai-nilai yang dianutnya. Untuk memperoleh itu ditempuh  melalui proses pendidikan. Pendidikan menumbuhkan kecerdasan dan kreativitas berfikir serta mewariskan nilai-nilai sebagai rujukan dan mendorong manusia memberdayakan semaksimal mungkin  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kecerdasan dan kreativitas  berfkir yang bertumpu pada akal serta nilai-nilai yang mendasarinya akan melahirkan kebudayaan baik yang bersifat materi maupun yang non materi. Dalam kaitan itu, pendidikan berperan menumbuhkan dan meneruskan budaya, membimbing manusia melakukan peran sosialnya, sebagai bagian dari prilaku budaya yang luas dan umum dan menjadi sumber inovasi sosial dan budaya.
Dengan demikian, budaya dan pendidikan memiliki hubungan  fungsional  dan menekankan pada dua orientasi. Pertama, bersifat reflektif, yakni pendidikan berperan mempengaruhi corak dan arus kebudayaan yang sedang berlangsung. Ini sejalan dengan tugas pendidikan yaitu meneruskan budaya. Kedua, bersifat progresif, yaitu pendidikan berperan memperbaharui budaya untuk mencapai kemajuan, karena tugas pendidikan juga mentransformasikan budaya sesuai dengan tuntutan zaman dan yang mendasari nilai-nilai pendidikan. Kemudian corak dan arah budaya tersebut akan mempengaruhi sistem pendidikan, sikap bathin dan prilaku individu-individu dan masyarakat generasi berikutnya.
Adanya hubungan fungsional antara pendidikan dan budaya tampak pula dalam rumusan para pakar pendidikan mengenai definisi  dan tujuan pendidikan baik umum maupun Islam bermuara pada terwujudnya budaya. Dari visi pendidikan Islam, misalnya menekankan pada pengembangan pikiran, penataan, tingkah laku dan emosi, pembentukan kepribadian, mendidik akhlaq dan jiwa melalui latihan jiwa, intelek, perasaan dan indera anak didik atau  pemekaran pribadi anak didik secara total berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan kata lain, sasaran pendidikan Islam adalah membentuk manusia-manusia yang memiliki kecerdasan  dan wawasan keilmuan  yang luas sekaligus  mempunyai komitmen religius  yang tinggi baik kepada Tuhan, alam maupun sesama manusia. Aplikasi hasil pendidikan terebut dalam kehidupan individu dan masyarakat disebut prilkau budaya yang meneruskan dan memperbaharui serta mengembangkan kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan tarjamahnya, 1972 Departemen Agama RI, Jakarta.

Ali Syahbana, S Takdir, 1986, Antropologi Baru, PT Dian Rakyat, Jakarta

Arifin, M., 1989, Pendidikan Agama dalam Lingkup Pendidikan Nasional, Makalah Seminar, Jakarta

0 komentar " BUDAYA, PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMBENTUKAN MORAL GENERASI MUDA ", Baca atau Masukkan Komentar

Posting Komentar

Google+

Followers