MAKALAH: TAUHID SEBAGAI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

Pemikiran tauhid sebagai konsep yang berisikan nilai-nilai fundamental yang harus dijadikan paradiga pendidikan  Islam merupakan kebutuhan teologis-filosofis. Sebab, tauhid sebagai pendangan dunia Islam menjadi dasar atau fundamen bangunan Islam secara keseluruhan, tidak terkecuali pendidikan Islam. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus dibangun di atas dasar landasan yang benar dari pandangan dunia tauhid.
Pendidikan dalam pandangan tauhid, adalah pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah (teologis) sebagai landasan etis normatif dan nilai-nilai insaniah (antropo-sosiologis) sebagai basis praktis operasional.
Dari perspektif ini dapat diambil formulasi bahwa tauhid dalam pemikiran Islam berfungsi untuk mentransformasikan setiap individu anak didik menjadi “manusia tauhid” yang lebih kurang harus ideal, dalam arti memiliki sifat-sifat mulia dan komitmen kepada penegakkan kebenaran-kebenaran dan keadilan. Berbagai atribut manusia tauhid yang diharapkan lahir dari rahim pendidikan adalah, pertama; memiliki komitmen utuh, tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ia berusaha secara maksimal menjalankan pesan dan perintah Tuhan sesuai dengan kadar kemampuannya. Kedua; menolak segala pedoman dan pandangan hidup  yang bukan datang dari Allah SWT. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakkan ini berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh belenggu buatan manusia supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kokoh.
Ketiga; bersikap progressif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas hidupnya, adat istiadat, tradisi, dan faham hidupnya. Bila dalam penilaiannya terdapat unsur-unsur syirik dalam arti luas  maka ia tidak segan-segan merubah dan mengubahnya agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah.  Manusia tauhid akan selalu bersikap  progressive inovative karena ia tidak pernah menolak perubahan yang positif.
Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Ibadatnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya, selalu ditunjukkan untuk dan demi Allah semata. Inilah komitmen yang selalu diucapkan  berkali-kali  dalam setiap shalatnya. Manusia tauhid tidak kan mudah terjerat ke dalam niali-nilai palsu atau hal-hal yang tanpa nilai. Atribut-atribut duniawiyah seperti kekayaan, kekuasaan dan kesenangan hidup  bukanlah tujuan hidupnya. Sebaliknya, hal-hal tersebut dipandang sebagai sarana belaka untuk mencapai keridhoan Allah SWT.
Kelima; manusia tauhid memiliki visi dan misi yang jelas tentang kehidupan yang akan dibangunnya  bersama manusia-manusia lainnya. Suatu kehidupan yang sentausa, aman, dan makmur (baldatun thayyiobatun wa rabbun Ghafur), demokratis, egalter, manusiawi, dan menjaga keharmonisan dengan lingkungan hidupnya, dan sesamanya serta dirinya sendiri. Pada gilirannya, visi tersebut mendorongnya untuk mengubah dan membangun  dunia dan masyarakat sekelilingnya. Kewajiban untuk membongkar masyarakat yang jumud, anarkis, status quo dan, sebaliknya membangun tata kehidupan yang baru, demokratis, adil, dan menghargai hak asasi manusia dipandang sebagai misi utama sepanjang hidupnya.
Berdasarkan pandangan di atas, pendidikan Islam dalam kerangka tauhid harus melahirkan dua kemestian strategis sekaligus. Pertama; menjaga keharmonisan untuk meraih kehidupan yang abadi dalam hubungannya dengan Allah. Kedua melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan dalam hubungannya dengan alam lingkungan dan sesamanya. Dengan kata lain, pendidikan Islam dalam tinjaun teologis dan filosofis  diarahkan pada dua dimensi, yaitu dimensi ketundukan vertikal dan dialektika horisontal. Pada dimensi pertama, pendidikan Islam diarahkan pada asal-usul dan tujuan hidup manusia dalam mencapai hubungan dengan Allah SWT. Sedangkan dimensi kedua, pendidikan Islam hendaknya mengembangkan pemahaman tentang kehidupan konkrit yaitu kehidupan manusia dan hubungannya dengan alam lingkungan sosialnya. Pada dimensi ini manusia harus mampu mengatasi tantangan  dan kendala dunia real dengan seperangkat kemampuan yang dimiliki (pengetauan, keterampilan, moral dan kepribadian). Kemampuan-kemampuan semacam ini tidak lain hanya bisa diperoleh memlaui proses pendi dikan.
Dari kemestian ini seungguhnya bangunan pendidikan Islam dilandasi dan sekaligus  hendak mengarahkan manusia pada tiga pola hubungan  fungsional, yaitu hubungan manusia dengan Allah ( Hablun Minallah, atau aspek teologis), hubungan dengan manusia dengan manusia (hablum minannas atau aspek antropo- sosiologis),  dan hubungan manusia dengan alam (hablum min a’lam atau aspek kosmologis).
Dalam bahasa yang mudah dimengerti hubungan yang pertama disebut  keberagaman, hubungan kedua disebut kebersamaan, dan hubungan ketiga disebut dengan kemitraan.
Pertama; hubungan dengan Allah atau keberagamaan, adalah manifestasi dari kemestian eksistensi dan kehadiran manusia sebagai ciptaan, makhluk Tuhan. Dalam keberagaman, manusia menyatakan sifat kemakhlukannya yang selalu membutuhkan dan tergantung kepada Khaliq, yang terwujud dalam sikap aslam, yaitu penyerahan dan pemasrahan diri diri kepada Allah. Kepasrahan pada dasarnya merupakan inti  atau ruh, bukan saja bagi hidup keberagaman, melainkan juga bagi hakekat keberadaan manusia.
Kedua; Hablum min annas, kebersamaan; merupakan kelanjutan teologis dari keyakinan pada keesaan Tuhan (tauhid) adalah faham persamaan manusia. Pandangan pertama  yang melandasi hubungan manusia  dalam pandangan tauhid adalah  manusia berasal dari umat yang sama, mempunyai kedudukan yang sama,  dan mempunyai tanggung jawab kosmis yang sama pula (kesatuan manusia). Akan tetapi dibalik semua kesatuan gagasan itu,  Islam tidak mengecilkan arti dan bahkan mengakui  kenyatan eksistensial pluraliats umat manusia.  Umat manusia adalah satu sekaligus majemuk, satu dalam keserbaragaman, dan beraneka dalam kesatuan.
Ketiga; hablum min Al-Alam, kemitraan; pemahaman tentang kebersamaan dengan manusia lain membawa kita pada pemahaman yang lebih baik tentang eksistensi alam, yang keduanya merupakan pangkal tolak dalam memahami konsep  dasar dan tujuan pendidikan Islam. Falsafah tentang alam dan manusia dalam Islam didasarkan pada asas ketuhanan yang fungsional, dalam arti bahwa Allah adalah Rabb dan Khaliq, Rabb al-alamin, Khaliq al-Insan.
Keyakinan hanya ada satu Rabb yang mencipta, mengatur, dan memelihara alam semesta (tauhid rububiyah) sekaligus meyakini akan kesatuan alam, keteraturan dan keharmonisan alam dengan berbagai hukum yang mengaturnya dan diikat dengan satu hukum  tertinggi dari Yang Maha Pengatur.

0 komentar " MAKALAH: TAUHID SEBAGAI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM ", Baca atau Masukkan Komentar

Posting Komentar

Google+

Followers