SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA

PLURALISME

Pluralisme, suatu Realitas Masyarakat Multietnik
Pluralisme atau kemajemukan suatu masyarakat itu dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu secara horizontal dan secara vertikal. Masyarakat secara horizontal dilihat dari kenyataan yang menunjukkan adanya satuan-satuan sosial yang keragamannya dicirikan oleh perbedaan suku bangsa, agama, adat istiadat atau tradisi, serta unsur-unsur kedaerahan lainnya. Sedangkan mengelompokkan vertikal umumnya digambarkan dengan adanya stratifikasi sosial, ekonomi, dan politik. Menurut pandangan fungsionalisme struktural, di dalam masyarakat pluralitas, menganggap bahwa semua disfungsi, semua ketegangan, dan berbagai penyimpangan sosial mengakibatkan terjadinya perubahan sosial berupa timbulnya diferensiasi sosial yang semakin kompleks, dan itu merupakan akibat dari pengaruh faktor-faktor yang datang dari luar. Pluralitas agama, budaya, ras, bahasa, dan adat-istiadat yang seharusnya merupakan investasi yang sangat berharga terkait dengan konsep integrasi, sering kali dianggap sebagai kendala dalam menyatukan keinginan-keinginan untuk bersama. Upaya integrasi dengan mewujudkan suatu etika yang dilandasi oleh konsep universal justru meniadakan mereka yang berbeda (otherness) di dalam kehidupan sosial. Kekerasan juga muncul karena adanya cara pandang yang masih dikungkung oleh pemikiran yang logosentris, di mana pihak penguasa berupaya mengubah keragaman agama dan budaya menjadi kekuatan-kekuatan untuk mengatur dan menyatukan perbedaan sedemikian rupa sehingga dikuasai oleh nalar dogmatis. Parahnya, logosentrisme cenderung menutup diri dalam melihat eksistensi unsur-unsur historis, sosial, budaya, dan etnik masyarakat sehingga ia cenderung menjadi satu-satunya konsep lahiriah yang harus dipatuhi padahal ia mengabaikan aspek-aspek spiritual. Konsep primordialisme, memang memiliki sifat equilibrium, tetapi, dalam implementasinya, ia cenderung memunculkan unsur-unsur yang negatif, dan ini sering kali terjadi pada banyak kasus konflik antar kelompok masyarakat, khususnya di Indonesia. Hal ini, jika dicermati, disebabkan oleh adanya penonjolan yang dilebih-lebihkan terkait dengan faktor subjektivitas dari masing-masing elemen masyarakat seperti unsur-unsur keagamaan, unsur sosial, unsur politik, dan ciri-ciri etnis atau ke-sukubangsa-an. Sementara faktor-faktor yang bersifat objektif, yaitu kenyataan sebagai masyarakat yang pluralistik, cenderung ditutup-tutupi karena adanya berbagai kepentingan politis yang menonjolkan ke-eka-annya dibanding dengan ke-bhinneka-annya. Atas hal ini, konflik dapat terjadi karena tumbuhnya sikap primordialistik yang secara sosio-kultural di dalamnya telah ada benih-benih perbedaan dan persaingan antar kelompok/golongan. Di sinilah peran pemerintah, peran negara, dalam mengakomodasi kepentingan rakyat di mana pemerintah harus menjadi mediator dalam berbagai penyelesaian konflik dengan mengemukakan atau upaya-upaya persuasif dan menanamkan nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan tanpa dibarengi tindakan-tindakan koersif atau represif.


DOWNLOAD

0 komentar " SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA INDONESIA ", Baca atau Masukkan Komentar

Posting Komentar

Google+

Followers