TIPS : AGAR IBADAH TERASA NIKMAT

Secara sadar, Islam telah kita pilih sebagai kendaraan
keselamatan dunia akhirat. Ada sejumlah konsekuensi
yang mengikuti pilihan ini. Meski tidak semuanya
mudah dan menyenangkan, bukan pula berarti sulit
dan rumit hingga mustahil direalisasikan. Ada
beberapa hal penting yang harus kita pahami!

Diantaranya adalah pengetahuan akan makna beriman. Bahwa

keyakina akan „tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad Rasulullah‟
bukanlah keyakinan kosong. Bersamanya ada sejumlah kewajiban yang
harus kita laksanakan  sebagai bukti benarnya apa yang telah kita
ikrarkan. Plus sejumlah amal yang harus kita laksanakan.
  Selain itu, ada standar baru tentang nilai sebuah amalan, yaitu
ridha Allah. Di mana ia akan menjadi ukuran pasti yang akan
mengalahkan yang lain. Artinya  sejak menjadi orang Islam, apapun
yang kita lakukan haruslah dalam kerangka ini. Sebab islam tidak
menerima amalan dengan tujuan yang lain. Inilah makna Allah sebagai
al-Ma‟bud.

  Dengan  demikian, seluruh aktivitas kita, baik berhubungan
dengan keyakinan, qalbu, lisan serta anggota tubuh yang lain, berubah
nama menjadi ibadah. Yang cakupannya akan meliputi seluruh bidang
kehidupan itu sendiri dan bukan sekadar ibadah mahdhah, atau ritual
keagamaan saja. Diseluruh cakupan itulah kita harus berupaya
menggapai ridha Allah.
  Di sisi lain, Islam juga mengajari kita bahwa tidak semua amal
yang kita lakukan otomatis akan menjadi amal shalih atau diridhai
Allah. Karena ikrar syahadat telah membingkai syarat-syarat
keshalihan amal. Ikhlas sebagai syarat batin, dan  ittiba’ sebagai syarat
lahir. Yang tanpa kedua syarat ini, amal perbuatan kita menjadi sia-sia
belaka. Akan menjadi debu yang beterbangan.

Mencintai dan menikmati 

Beribadah adalah kebutuhan, karena untuk itulah kita diciptakan.
Bentuk dan jumlahnya sangatlah beragam dan banyak. Karenanya kita
harus belajar menyukai  dan mencintai ibadah kepada Allah agar kita
bias bersabar dalam pengerjaannya yang panjang dan melelahkan. Agar
apa yang kita inginkan di dalam hidup adalah mengerjakan ketaatan
kepada-Nya, sebanyak-banyaknya sejauh kita mampu. Sebab, apa yang
akan kita kerjakan adalah yang kita inginkan dan kita cintai, bukan
yang kita tahu.
  Setelah itu, tugas kita berikutnya adalah berusaha menimati
ibadah kita. Yaitu mencari atsar atau pengaruh ibadah di dalam qalbu
dan jiwa, sebelum ia menggerakan jasad. Agar ia tidak berubah menjadi
gerakan-gerakan tubuh yang kering dan gersang, sekadar haus, lapar
atau menggugurkan kewajiban. Untuk itu kemudian membuat kita
kelelahan.
  Sebagaimana Rasulullah    memerintahkan kepada Bilal dalam
riwayat Abu Dawud, “Istirahatlah jiwa kita dengan shalat, ya Bilal”
  Karena ibadah  shalat, juga seluruh jenis ibadah akan
membuahkan ketenangan dan ketentraman qalbu, serta
menghilangkan segala bentuk keresahan jiwa. Bukankah hamba yang
beribadah adalah hamba yang menyadari bahwa ia telah mengerjakan
sesuatu yang seharusnya dikerjakan.

Bukan asal mengerjakan

Inti keshalihan adalah kecintaan terhadap ketaatan dan menikmatinya.
Sebab tanpa keduanya, sulit bagi kita untuk bersabar dalam
menunaikan ibadah dan melaziminya. Untuk itu, belajar mencintai
ibadah dan membiasakan secara teratur,  jauh lebih penting daripada
sekadar memelajari dasar-dasar ibadah beserta tata cara
pelaksanaannya, anjuran untuk memperbanyaknya, serta pesan agar
tidak meninggalkannya. Sebab beribadah bukan sekadar
menumbuhkan semangat. Namun ada yang jauh lebih penting,  yaitu
rasa dan pengaruh ibadah di dalam qalbu.
  Sehingga, bagi kita semestinya, beribadah bukanlah sekadar
terpenuhinya kewajiban secara lahir, namun kering dan tidak meresap
di dalam jiwa. Asal sudah gugur kewajiban, maka kita tidak peduli
apakah ibadah kita berpengaruh ke dalam qalbu atau tidak.
  Jika demikan adanya, maka akan kita temui diri kita telah banyak
mengerjakan ibadah tapi tanpa merasakan sentuhannya. Tanpa ikatan
qalbu dan kesungguhan karena cinta. Yang selanjutnya, akan
memunculkan pribadi-pribadi yang rapuh, dan mudah terjerumus ke
dalam maksiat dan penyimpangan meski telah banyak mengerjakan
ibadah.
  Kita mengetahui dampak negatifnya dosa beserta ancama bagi
para pelakunya, namun kita tidak berdaya menghadapi badai maksiat
dan menghindar darinya. Tentu saja hal ini adalah bencana yang besar.

Bukan Sekadar Pernah

Selanjutnya, tugas kita adalah melaziminya berbagai macam ibadah
dan mengerjakannya secara kontinyu. Selain agar rasa nikmat itu
muncul, hal ini juga bisa berarti mengumpulkan kekuatan qalbu secara
komulatif agar kita mampu mengerjakan ibadah secara bertahap dan
berjenjang ke level selanjutnya.
  Rasulullah    sendiri menyukai amal ibadah yang rutin meski
tapak sepele. Beliau juga memperingatkan kita dari mengerjakan
ibadah yang tidak rutin. Dalam sebuah riwayat Bukhari, Rasulullah  
memberi nasihat kepada Ibnu Umar, “Janganlah engkau seperti si
Fulan, mendirikan shalat malam dan kemudian meninggalkannya”.
  Maka, mengukur kemampuan diri dalam mengerjakan ibadah
perlu kita lakukan. Agar kita tidak terjebak pada salah satu di antara
dua titik ekstrem; mals dan berlebih-lebihan. Sungguh, ibadah adalah
sebuah proses taqarub yang panjang, maka sangat layak jika kita
berhati-hati. Wallahua’alam

1 komentar :

Google+

Followers